Cimahi – Sejumlah penjual musiman bendera merah putih dan atribut kemerdekaan mulai bermunculan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. Namun, pemandangan tak biasa terlihat di perbatasan Kota Cimahi dan Kota Bandung. Di antara deretan bendera merah putih yang berkibar, turut terpajang bendera bergambar tengkorak khas bajak laut — logo kru bajak laut anime populer, One Piece.
Atribut unik ini menarik perhatian banyak pengguna jalan, sebagian tertarik membeli, namun sebagian lagi mempertanyakan motif para pedagang. Bahkan, muncul kekhawatiran dari warga sekitar bahwa bendera tersebut bisa dianggap provokatif atau menyimpang dari semangat nasionalisme.
Dituduh Tak Nasionalis, Penjual Merasa Dipojokkan
Salah satu penjual, Dani (27), yang sejak awal Agustus membuka lapak di pinggir Jalan Amir Machmud, mengaku mulai resah karena sering ditanyai petugas dan warga terkait bendera bergambar tengkorak bajak laut itu. Padahal, menurutnya, bendera One Piece hanya dijual karena permintaan pasar dan tren anak muda.
“Saya bukan mau melecehkan kemerdekaan. Ini cuma jualan biasa. Banyak anak muda yang suka anime, ya saya jual benderanya. Tapi sekarang malah dituduh macam-macam,” kata Dani.
Pemerintah dan Warga Minta Penertiban
Namun di sisi lain, beberapa tokoh masyarakat dan pihak kelurahan menyayangkan kehadiran atribut non-nasional di tengah momen kemerdekaan. Mereka khawatir bendera seperti itu bisa menimbulkan tafsir keliru, terutama bagi generasi muda yang belum memahami konteksnya.
“Kami bukan melarang orang berdagang, tapi jangan sampai perayaan kemerdekaan diboncengi simbol-simbol yang tidak relevan. Apalagi ini masa sensitif,” ujar salah satu ketua RT di kawasan Cimindi.
Dinas Ketertiban Umum Kota Cimahi juga dikabarkan telah menerima laporan terkait penjualan atribut tersebut dan berencana melakukan pendekatan persuasif kepada para pedagang.

Baca juga: Jalan Terjal Pengentasan Banjir di Cimahi: Anggaran Jumbo-Waktu Lama
Antara Bisnis dan Sensitivitas Sosial
Penjualan atribut One Piece sebenarnya bukan fenomena baru. Bendera anime itu sudah beberapa kali muncul di bazar pop culture, acara cosplay, hingga gerai online.
“Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ruang publik menjadi tempat kontestasi simbol. Di satu sisi, pedagang ingin memanfaatkan tren demi penghasilan. Di sisi lain, masyarakat merasa ada batasan yang harus dihormati, terutama terkait simbol-simbol nasional,” jelasnya.
Solusi: Edukasi, Bukan Sekadar Penertiban
Daripada sekadar melarang atau menertibkan, para ahli menyarankan pendekatan edukatif agar para penjual dan masyarakat saling memahami batas etika serta konteks budaya.
“Kalau memang dilarang, ya kami berhenti jual. Tapi kami juga perlu tahu alasannya, jangan cuma disalahin terus. Kami cuma mau cari makan,” ujarnya lirih.
Polemik bendera One Piece di batas Cimahi-Bandung ini menunjukkan pentingnya memahami sensitivitas budaya dalam ruang publik, apalagi saat momen penting seperti Hari Kemerdekaan.







